Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM Soroti Algoritma, Kepalsuan Digital, dan Ancaman Hilangnya Kesetaraan di Era Super Smart Society
Sabtu, 3 Oktober 2026 | 07:14 WIB
Yogyakarta media Pastvnews.com warta nasional, kabar kali ini redaksi menampilkan kegiatan yang menarik pada 1 Oktober 2026 di RRI Pro Jogja, awak oktober yang lalu ada pembahasan berkait pancasila.
Dalam acara menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi yakni Diasma, Dia mengatakan bahwa ancaman terhadap Pancasila di era digital tidak selalu datang dalam bentuk ideologi asing atau konflik terbuka.
Tantangan yang lebih dekat justru dapat m
uncul dari dalam negeri, terutama ketika kekuasaan disalahgunakan, prinsip kesetaraan diabaikan, dan ruang digital dipenuhi informasi serta citra yang tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.
Gagasan tersebut disampaikan Diasma Sandi Swandaru, S.Sos., M.H., peneliti Pusat Studi Pancasila UGM sekaligus Ketua Umum Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Genmuda ISRI), dalam program JAGA MALAM—Jangan Galau Malam-Malam di RRI Pro 2 Jogja 102,5 FM, Kamis (1/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dipandu oleh Vina Mufiana.
Dalam dialog bertema “Ancaman-Ancaman Pancasila 5.0”, Diasma membahas perubahan tantangan Pancasila di tengah perkembangan artificial intelligence (AI), big data, dan media sosial.
Menurut Diasma, masyarakat kini memasuki era super smart society, ketika AI, big data, dan teknologi digital semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Perubahan tersebut bukan hanya mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berkomunikasi, tetapi juga dapat mengubah lanskap sosial dan ideologi.
“Konsekuensi ini otomatis akan bisa mengubah lanskap ideologi negara kita. Masyarakat berubah, tatanan sosial juga ikut berubah. Bagaimana ideologi ini menghadapi tantangan baru?” ujarnya.
Ancaman Utama Abuse of Power Diasma menegaskan Pancasila harus ditempatkan sebagai dasar negara sekaligus pedoman dalam menjalankan kekuasaan.
Salah satu prinsip pentingnya adalah kesetaraan dan keadilan, yaitu setiap warga negara memiliki hak dan kesempatan yang sama.
Ia mencontohkan proses rekrutmen dalam jabatan publik seperti BUMN, TNI, POLRI, ASN termasuk guru-dosen sekolah negeri, yang idealnya berdasarkan pada kompetensi, bukan hubungan keluarga maupun kekuatan ekonomi.
“Bukan melihat Anda anaknya siapa, bukan melihat seberapa banyak uangnya. Yang terpilih adalah orang-orang yang memiliki kompetensi dan nilainya terbaik, siapapun dia” kata Diasma.
Menurutnya, ketika kesetaraan, keadilan, dan prinsip kerakyatan tidak dijalankan, republik berisiko bergeser dari res publica (urusan bersama) menjadi res privata (urusan pribadi), ketika jabatan-jabatan publik lebih diarahkan untuk kepentingan sekelompok orang tertentu.
“Republik berarti untuk semua rakyat. Kalau orang tidak mendapat akses yang setara dan tidak mendapat kesempatan yang adil, maka republik hanyalah sekadar bentuk, tetapi isinya berubah menjadi res privata,” ujarnya.
Karena itu, Diasma menilai godaan terbesar terhadap Pancasila berada pada mereka yang memegang kekuasaan.
“Ancaman yang terbesar itu sekarang bukan lagi ideologi asing, bukan lagi orang luar, tetapi dari dalam. Dari dalam itu siapa? Orang yang menyelenggarakan negara,” katanya.
Menurut dia, pengaruh dari luar dapat berlangsung melalui berbagai bentuk soft power, tetapi kekuatan tersebut baru menjadi ancaman apabila ada aktor di dalam negeri yang menggunakan kekuasaan dan kebijakan negara dengan mengabaikan prinsip-prinsip Pancasila.
Ia mengingatkan, sebesar apa pun kemampuan seseorang, kesempatan tetap dapat hilang apabila prinsip kesetaraan dan keadilan tidak dijalankan.
Media Sosial dan Kepalsuan Digital
Ancaman lain muncul di ruang digital. Menurut Diasma, media sosial tidak selalu menyajikan realitas secara utuh. AI bahkan memungkinkan citra, suara, dan tampilan seseorang maupun sebuah produk direkayasa sehingga terlihat meyakinkan.
“Jadi ada kepalsuan yang diciptakan di era hari ini. Maka banyak orang yang terjebak dan tertipu,” ujarnya.
Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan verifikasi dengan memeriksa latar belakang, sumber, konteks, dan kebenaran informasi.
Diasma memberikan contoh berbelanja secara daring yang menampilkan sebuah produk dapat terlihat sangat menarik, lucu dan menggemaskan, tetapi kenyataan setelah barang diterima belum tentu sama dengan apa yang ditampilkan di layar.
Jangan Berkelahi dengan Mesin
Perubahan teknologi juga memengaruhi interaksi di media sosial. Diasma mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terseret dalam konflik dengan orang yang bahkan tidak mereka kenal.
“Kita tidak pernah bertemu dengan orang itu, kita tidak kenal. Di media sosial, ngapain kita berdebat sampai berkelahi? Kita tidak tahu yang di belakang itu manusia atau mesin,” imbuhnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi memungkinkan munculnya komentar maupun respons yang tidak selalu berasal dari interaksi manusia secara langsung. Karena itu, pengguna media sosial perlu lebih tenang dan kritis dalam merespons informasi.
Namun, Diasma tetap melihat media sosial sebagai instrumen penting dalamkontrol publik. Ketika terjadi ketidakadilan atau penyalahgunaan kekuasaan, ruang digital dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan persoalan tersebut kepada publik.
“Dalam Negara Pancasila kekuasaan itu harus dikontrol. Media sosial menjadi alat pengontrol. Jika ada penyalahgunaan power, disaat itulah ancaman bagi Pancasila 5.0,” ujarnya.
Pancasila Harus Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari
Di akhir dialog, Diasma menegaskan penguatan Pancasila tidak cukup melalui hafalan. Nilainya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara generasi muda membangun hubungan sosial.
“Pancasila itu digali oleh Bung Karno dari sosial budaya masyarakat kita, kehidupan sehari-hari kita. Perbanyak pertemanan dengan teman-teman yang bermacam suku, agama, ataupun kelas sosial. Sikap itu adalah implementasi Pancasila,” katanya.
Bagi Diasma, tantangan Pancasila 5.0 pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknologi. Teknologi adalah medium; persoalan utamanya tetap manusia, kekuasaan, nilai, dan cara masyarakat mengatur kehidupan bersama.
Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi sekaligus menjaga nalar kritis, kesadaran sejarah, kesetaraan, dan kontrol terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Ancaman Pancasila mungkin berubah bentuk. Namun pertahanan Pancasila tetap bergantung pada satu hal, apakah nilai-nilainya benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam penggunaan kekuasaan. Tim/red/DS

Video Terkait
- Masa Pandemi Warga Padukuhan Gunungasem Ngoro-oro Patuk Masih Eksis Gelar Rasulan
- Masa mandemi new normal penghobi burung sudah banyak turun ke lomba
- Perundingan Bipartit PT.SRR Sementara Buntu Karyawan Minta Pesangon Normal 1, 4 Milyar ?
- Asmindo DIY Inisiasi Gelar Pameran Secara Virtual Seluruh Indonesia
- Peternak perkutut masih eksis walaupun kondisi negara di guncang virus covid 19
- Dampak Akibat Covid 19 Lama Industri Rambak Segoroyoso Terancam Bangkrut
- Relawan Bacabup Ini Kunjungi Warga Ringankan Beban
- KH Fahmi Basya 'Seluruh Dunia Menyatakan Perang Melawan Virus' Perang Dunia III
- Hampir 2 Pekan Jalan Jogja Wonosari - Patuk Gunungkidul Lengang
- Gerakan Penyemprotan Disinfektan Pemdes Terbah Patuk Libatkan Berbagai Element
- Pasangan Balon Cawub -Bacabup Ini Siap Bertarung Dikancah Pemilukada 2020
- Biawak akan serang petugas pembersih sedimen di tangkap
- Relawan "NO-TO" Lakukan Upaya Pemberantasan Covid -19
- Dwiyono Kades Terpilih Desa Kedungpoh Nglipar Menang Raih 1542 Suara
- Telaga Towati Tepus Gunungkidul Bebas Dari Polusi Udara Jahat.
- Pesona Wisata Beton Ponjong Gunungkidul
- YOGJA YOUTH FARMING" BEROPSESI JADI LABORAT PELESTARIAN ALAM
- IMOGIRI BERTEKAD LESTARIKAN SENI DAN BUDAYA WISATA
- Antisipasi kenakalan siswa SMPN 2 Jetis Bantul Jalin Komunikasi Dengan Wali Murid
- Cakades Joko Purnomo Kedungkeris Nglipar disambut meriah warga
- Bunga amarilis primadona yang bisa dikembangan diberbagai wilayah
- Angin Puting Beliung Menerjang SDN Waduk Sedikitnya 8 Rumah Warga Rusak
- Budi Oetomo Prasetyo Ponjong Gunungkidul Jabarkan Ide Nawa Karsa Manunggaling Cipta
- Jalan menuju Wisata Ke Pesisir Selatan Bantul Mulus
- Bantuan Beras Meringankan Beban Santri Dan Pengelola Ponpes
- Budi Oetomo Gunungkidul ‘Menjawab Panelis ‘Restrukturisasi Birokrasi Dan APBD Harus
- Inilah 11 Wajah Bacabup Gunungkidul 2019 Via Nasdem 'Siapakah Yang Pantas ?
- Nasdem Menjaring 11 Bacalon Bupati Gunungkidul
- Lulusan Akademi Komunitas Seni Budaya di Wisuda Sultan
- Inilah Obyek Pendidikan Semburan Air Melengkung Taman Pintar Yogya
- Zaman Kolonial Jepang Pakaian Saja Susah Baju Yang Ada Goni Seperti Ini
- Ikut Senam Sehat 2019 HUT Golkar Bantul 2 Warga Raih Sapi dan Motor
- Menikmati Semilir Angin Di Embung Merdeka Bantul'

